Jumat, 11 Januari 2019

Perjalanan (True Story Life)

Terkadang memilih itu Sulit, karena hasil yang di harapkan tak pernah sesuai, ketika memilih A dan keadaan sesungguhnya menjadi B, mungkin ini saat nya untuk belajar cara bersyukur dan tetap tawakal kepada maha kuasa.

Pikiran ini sulit untuk menentukan apa yang menjadi nilai 10 tapi harus di sadari bahwa tak ada yang sempurna ketika menjalani segala hal, hanya keyakinan yang harus memahami suatu keadaan, mungkin saja Tuhan selalu berkata lain.

Aku telah menjalani kehidupan 29 tahun, ya itu umur ku sekarang, tapi aku merasakan seperti manusia yang belum berguna bahkan masih menyusahkan orang-orang di sekitar ku, terutama keluarga ku.

Harus nya di usia ku saat ini telah menggapai segala harapan dan ke inginan yang lebih maju, mungkin karena aku dulu terlalu berleha-leha untuk mencapai itu.

Aku baru menyadari setelah menikah dan mempunyai anak. bahwa menjadi wanita yang produktif itu penting, membekali ilmu yang luas agar bisa menjadi panutan untuk anak ku kelak.

Dulu obsesiku sekolah setinggi-tingginya tak memikirkan akan menjadi apa nanti nya..
Salah satu obsesi ku terwujud dan aku telah membereskan pendidikan yang aku harapkan.

Dan sekarang???
Aku masih mencari jati diri ku yang ke dua memiliki obsesi aku harus menjadi wanita yang sukses, apakah aku bisa? (Entahlah dan selalu berusaha),
Karena dalam prinsip ku, aku tak ingin menyusahkan orang lain lagi terutama dalam hal materi dan ini adalah bekal ku nanti untuk mendidik anak ku, meski kelak nanti suami telah menjadi sukses bukan berarti aku selalu terpatok kesuksesan suami ku kelak.

Ini adalah obsesi ku paling besar menjadi wanita karir tapi tak ingin ada yang menjadi korban dalam keluarga ku terutama anak ku...

Saat ini aku telah memilih untuk bekerja kembali, kenapa aku memilih jalan ini lagi!? Sesungguhnya aku tak ingin bekerja di tempat orang apa lagi yang menghabiskan waktu berjam-jam di kantor, pergi pagi pulang malam waktu ku semakin singkat bersama anak ku, sedih rasanya aku harus menitipkan anak ku berjam-jam pada orang lain ( maksudku di asuh bukan dengan ibu nya sendiri ) yaitu kakak kandung ku sendiri, aku yakin kakak ku bisa memberikan lebih perhatian nya di bandingkan aku tapi tetap saja cara didikan ku akan berbeda dengan cara didikan kk ku sendiri.

Aku memang seorang ibu yang galak tapi ini adalah ketegasan ku dan cara ku agar dia bisa mandiri dan tidak merasakan ketergantungan kepada orang tua nya bahkan bisa menghormati orang-orang di sekitarnya, mungkin orang-orang di sekitar ku melihat cara mendidik anak terlalu keras tapi menurutku ini adalah cara nya tepat, dikala kita bisa memanjakan anak dan dikala ketika kita harus membuat anak menjadi lebih mandiri...

Balik lagi dalam pertanyaan di atas, mengapa aku memilih untuk bekerja kembali? Banyak hal yang mendorong ku untuk melakukan hal ini, terutama agar kami bisa hidup lebih mandiri dan tanpa ikut campur dengan orang lain (sebut saja dengan keluarga sendiri) dan ada faktor permasalahan yang tak dapat aku tulis dalam artikel ini.

aku sadar dalam waktu ini aku selalu membangkang ke inginan suami dan membantah apa yang dia inginkan...
Meski dan selalu ke inginan dia itu tak pernah secara langsung namun aku selalu paham apa yang dia inginkan. Contohnya aku memilih untuk bekerja kembali...
Itu hal yang tidak dia sukai, dia menginginkan ku untuk menjadi seorang ibu rumah tangga saja. Mengurus rumah dan mengurus anak. Betul, itu adalah tugas seorang istri, namun kita perlu menyadari bahwa kehidupan ini berkembang apa lagi mempunyai seorang anak itu kita harus memikirkan pendidikan, akhlak, kepribadian, kebutuhan secara lahir dan batin. Aku hanya ingin berusaha memberikan yang terbaik untuk anak ku dan meringankan beban dia. Itu saja tidak lebih? Dan tetap jika suatu hari aku lebih unggul dari dia, insyaallah aku akan tetap menghormati nya dan tidak akan lepas dari tanggung jawab sebagai istri dan ibu bagi keluarga ku. Bagi ku keluarga adalah prioritas dari segala hal apa pun.

Mungkin ketika dia merasa ada perubahan dalam diri ku, dia menganggap ku hanya segelintir angin bahkan hanya sebuah puing-puing dalam kehidupan ini...(mungkin)
Dan Aku pun selalu menyadari segala perubahan ini...
Kenapa?? Aku bisa berubah? Membangkang? Bahkan tak menjadi istri yang dulu bisa menurut? Dan manggut-manggut setiap ucapannya!?. You know me lah..
Jika suami ku baca artikel ini... Jika dia paham diri ku?
Dia pasti paham dari segala pertanyaan ini.

Maafkan jika aku selalu terobsesi apa yang aku harapkan..
Karena aku tak bisa hidup berpegangan atau ketergantungan pada orang lain, aku ingin merubah kehidupan ini menjadi lebih baik.

Anak ku semakin besar dan semakin mengerti dengan duniawi ini, bahkan berkembang sangat pesat meski anak ku masih berusia 2 tahun 6 bulan. Tapi dia sudah mengerti dengan keadaan kami terutama keadaan ku.

Aku hanya ingin anak ku bisa mendapatkan apa yang telah menjadi hak nya...

Aku selalu berusaha menjadi ibu yang baik, meski aku memutuskan untuk bekerja kembali. Aku berusaha membagi waktu nya sebisa mungkin. Aku mulai mengorbankan kegiatan ku satu persatu di waktu weekend.

Tapi setalah aku jalani 2minggu ekspetasi ku salah, tak ada tanda-tanda untuk memilih mencari rumah sementara  ... Tapi ya sudahlah pekerjaan ku toh belum jelas perkembangan nya seperti apa kedepannya nya?? Mungkin saja akan membaik? Mungkin saja!! Karena aku belum menemukan titik kenyamanan dalam pekerjaan ku sekarang, entahlah kedepannya akan seperti apa. Let It Flow saja...

Aku jalani segala rutinitas yang aku hadapi. Dan pada akhirnya permasalahan datang secara bertubi-tubi menghampiri ku. Contohnya suami ku berpikir negatif terhadap diri ku dan dalam pekerjaan yang baru saja aku jalani belum menemukan titik temu kenyamanan, entah lah aku tak mengerti dengan keadaan yang aku alami sekarang. Aku berusaha menjalankan keadaan ini dengan sebaik mungkin. Dan ada perubahan yang lebih baik.